Itinerary Hari Ketiga yang Gagal di Putrajaya, Malaysia

Di dalam sebuah perjalanan pasti ada ‘gronjalan-gronjalan‘, entah kecil atau besar, begitu juga di dalam hidup karena pada dasarnya hidup ini adalah suatu perjalanan. Entah apa kata di dalam Bahasa Indonesia yang pas digunakan untuk menggantikan kata ‘gronjalan‘, saya belum bisa menemukannnya.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu, saya dan adik saya bisa mengunjungi Kuala Lumpur untuk jalan-jalan. Kebetulan juga, kami tidak menyusun itinerary secara rinci dan detail. Jalan-jalan ini lebih ke arah random dan spontan.

Hari pertama dan kedua berjalan lumayan mulus. Kami bisa mengunjungi tempat-tempat yang kami inginkan meskipun adik saya udah gempor kakinya karena kebanyakan jalan kaki. Nah, di hari ketiga, rencananya kami mau jalan-jalan ke Putrajaya yang merupakan pusat administrasi Malaysia dan katanya memiliki arsitektur yang cantik.Read More »

Advertisements

Mengunjungi Lancaster Castle, Benteng yang Menyimpan Sejarah Kelam

Gak pernah kepikiran sebelumnya untuk mengunjungi kota Lancaster, kota yang namanya belum pernah aku dengar sebelum rencana kedatanganku kesana. Lancaster adalah sebuah kota di Provinsi Lancashire yang terletak di Inggris sebelah barat laut.

Kenapa aku kesini? Hmmm, sebenernya karena tugas kantor. Maka dari itu, selama di Lancaster aku gak bisa jalan-jalan kesana kemari. Satu-satunya tempat wisata yang aku kunjungi ya cuma Lancaster Castle. Huaaaa, udah sampai Inggris tapi gak ke London T.T *kemudian baper*.

gerbang lancaster castle
Sayangnya, sewaktu aku datang kesini, sedang ada pekerjaan di gerbang Lancaster Castle, jadi ditutup terpal gitu.

Read More »

Perjalanan Tidak Biasa: Serpong – Rangkasbitung – Pandeglang – Serang – Tangerang – Serpong, part 2

Lanjutan dari part 1

Habis lari-lari, langsung kita naik bus itu. Sepertinya itu bus yang benar.

Kernet bus mulai memintai ongkos. Aku kasih uang pecahan 20.000 rupiah dan bilang itu ongkos untuk 2 orang. Terus sekalian nanya juga bis ini lewat Serang enggak. Kernetnya menjawab kalau bus itu lewat Serang, tapi juga meminta ongkos lebih. Katanya ongkos ke Serang yaitu 20 ribu per orang, jadi minta 20 ribu rupiah lagi 😦

Mungkin wajah ini memang keliatan culun banget ya, bahasa jawanya itu ingah-ingih, keliatan kalau belum pernah naik busnya, jadinya kami dipalak gini. Tapi karena nggak bisa nolak, nggak bisa membantah juga, daripada dipaksa turun kan ya, akhirnya kami kasih deh, 20 ribu rupiah lagi.Read More »

Perjalanan Tidak Biasa: Serpong – Rangkasbitung – Pandeglang – Serang – Tangerang – Serpong, part 1

Sabtu 2 minggu yang lalu, saya bersama seorang teman pergi jalan-jalan. Kali ini jalan-jalannya sedikit absurd. Berawal dari chat teman yang mengajak jalan-jalan naik KRL, saya langsung membalas dengan ide jalan-jalan ke Rangkasbitung. Kenapa Rangkasbitung? Nggak tau juga :D. Entah darimana ide itu muncul, saya pikir nggak ada salahnya mencoba pergi ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah kita singgahi. Selain itu, perjalanan KRL-ku biasanya ke arah Jakarta dan juga sepulang dari Jakarta, pemberhentianku selalu di Stasiun Serpong, belum pernah aku melewati jalur kereta ke arah Merak setelah Stasiun Serpong.

Lanjut. Akhirnya kami benar-benar berangkat ke stasiun hari itu. Berbekal googling seadanya, kami beli tiket kereta ke arah Rangkasbitung yang ternyata harganya hanya Rp. 8000 per orang. Di tiket tertera tulisan ‘PATAS’. Meskipun tidak ditentukan nomor tempat duduk, kami pikir nanti pasti akan kebagian tempat duduk.Read More »

Olahraga Kaki di Taman Margasatwa Ragunan

Akhirnya ke Ragunan juga.

Penasaran gak sih sama kebun binatang pertama di Indonesia? Kalau saya sih, iya. Sebagai pendatang di daerah Jabodetabek, saya lumayan penasaran kayak apa sih bentuknya Kebun Binatang Ragunan itu.

Dengan menggunakan KRL dan angkot, sekitar pukul 10.30, akhirnya sampailah saya dan teman saya di Taman Margasatwa Ragunan atau orang sering menyebutnya dengan Kebun Binatang Ragunan. Tiket masuk Kebun Binatang Ragunan sangat murah yaitu Rp. 4000,-  untuk orang dewasa dan Rp. 3000,- untuk anak-anak. Pantes aja kalau tempat wisata ini selalu ramai, soalnya murah dan punya nilai edukasi. Namun, sekarang ini Kebun Binatang Ragunan sudah menerapkan e-ticketing. Jadi, pengunjung harus menggunakan Jakcard untuk masuk ke lokasi wisata. Katanya sih untuk mengurangi antrian pembelian tiket. Bagi yang belum punya, kita bisa membeli di loket yang tersedia di Kebun Binatang Ragunan dengan harga 30 ribu rupiah (harga kartu 10 ribu + saldo 20 ribu). Bagi yang sudah punya Jackard, tinggal masuk saja deh. Satu kartu bisa digunakan untuk banyak orang selama saldonya cukup. Jackard ini juga bisa digunakan untuk naik TransJakarta dan juga e-parking. Kalau buat yang tinggal di Jakarta sih mungkin akan berguna ya, tapi kalau buat yang bukan penduduk Jakarta atau yang mungkin cuma sesekali ke Ragunan ya jadinya harus ada biaya tambahan deh buat masuk lokasi wisata. Apalagi, tempat wisata lain belum ada yang menggunakan sistem ini.

Read More »

Hutan Mangrove Kulon Progo

Jadi, ceritanya beberapa waktu yang lalu saya pulang kampung pas weekend. Kangen gitu sama rumah 🙂

Belum lama saya denger kalau di Kulon Progo, kampung halaman saya, ada hutan mangrove. Karena penasaran, saya ajak orang tua dan adik saya pergi kesana. Tempatnya sih sebenernya mudah dijangkau, tapi karena belum paham, kami sempat salah jalan dan harus putar balik. Saya kira, jalan ke hutan mangrove ini sama dengan jalan ke arah Pantai Congot. Namun ternyata, meskipun orang-orang sering menyebutnya hutan mangrove Congot, tetapi letaknya bukan berada di kawasan Pantai Congot. Apabila Anda datang dari arah timur, Anda masih harus berjalan ke barat dari pertigaan jalan yang menuju ke arah Pantai Congot. Anda harus melewati jembatan terlebih dahulu baru setelah itu belok ke kiri menuju hutan mangrove. Tanya pada orang sekitar adalah cara paling jitu menurut saya untuk sampai ke tempat tujuan. Sebenarnya ada kok papan penunjuknya, cuma kami aja yang nggak ngeh.

Hutan mangrove Kulon Progo terletak di Dusun Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Akses kesana sebenarnya sangat mudah. Hanya sebelum masuk ke lokasi itu jalannya sempit sekali yang hanya bisa dilewati satu mobil. Jadi kalau berpapasan dengan mobil lain ya harus ada yang minggir dulu ke halaman rumah penduduk. Mungkin akan lebih baik jika dibuat jalur masuk dan jalur keluar yang berbeda sehingga lebih nyaman lalu lintasnya.

Akhirnya, sampailah kami di hutan mangrove Kulon Progo yang foto-fotonya sudah banyak bertebaran di instagram. Di lokasi hutan mangrove ini, kami berjalan melewati jembatan-jembatan bambu yang dinamakan jembatan api-api. Pertama kali mendengarnya saya bertanya-tanya juga kenapa dinamai jembatan api-api. Saya lihat jembatannya hanya jembatan bambu biasa, tidak ada yang spesial. Setelah saya cari tau di google, rupanya api-api adalah salah satu jenis dari pohon mangrove yang banyak ditanam disitu, atau yang nama marganya Avicennia.

dsc01702

Read More »