Perjalanan Tidak Biasa: Serpong – Rangkasbitung – Pandeglang – Serang – Tangerang – Serpong, part 2

Lanjutan dari part 1

Habis lari-lari, langsung kita naik bus itu. Sepertinya itu bus yang benar.

Kernet bus mulai memintai ongkos. Aku kasih uang pecahan 20.000 rupiah dan bilang itu ongkos untuk 2 orang. Terus sekalian nanya juga bis ini lewat Serang enggak. Kernetnya menjawab kalau bus itu lewat Serang, tapi juga meminta ongkos lebih. Katanya ongkos ke Serang yaitu 20 ribu per orang, jadi minta 20 ribu rupiah lagi 😦

Mungkin wajah ini memang keliatan culun banget ya, bahasa jawanya itu ingah-ingih, keliatan kalau belum pernah naik bus itu.. Jadinya kami dipalak gini. Tapi karena nggak bisa nolak, nggak bisa membantah juga, akhirnya kami kasih deh, 20 ribu rupiah lagi.

Didalam bus, ada yang tidak biasa aku lihat di perjalanananku sebelum ini. Ada penjual salak di dalam bus yang ikut naik bus itu. Terus dia nawarin ke penumpang. Dia menawarkan salak dengan menghampiri penumpang satu persatu. Setelah dia nawarin sampai penumpang di belakang, nanti dia balik lagi ke penumpang yang sama di depan dan mulai nawarin lagi, berulang kali. Sempat merasa risih juga sih, ditawarin terus-menerus seperti itu.

Dari Pandeglang ke Serang ini jalanannya cukup berkelak-kelok, tetapi turunan dan tanjakannya tidak terlalu curam. Hujan mengguyur hampir sepanjang perjalanan. Temenku bilang, kalau misalnya hujan nggak reda pas sampai Serang, mending langsung ikut bus ini sampai Tangerang, nggak usah turun di Serang.

Akhirnya sampai di Terminal Pakupatan, Serang, udah nggak hujan. Jadinya kami turun dari bus. Kami kontak temen kuliah kami yang di Cilegon untuk ketemuan di Mall of Serang atau yang biasa disebut MoS. Dari terminal, kami keluar mencari angkot yang melewati mall tersebut. Nanya ke pak supir angkot, terus naik deh. Alhamdulillah, temenku udah agak hafal daerah ini, jadi nggak bingung-bingung banget lah.

Dari tempat turun dari angkot, kami masih harus berjalan kaki. Pas ada orang mau jalan juga, kami nanya ke orang itu, dan kebetulan dia juga mau ke MoS dan bersedia menunjukkan jalan pada kami. Alhamdulillah. Kira-kira, setelah 5 menit berjalan kaki, sampailah kami di MoS. Mall-nya tidak terlalu besar, tapi lumayanlah untuk kami ngadem.

Setelah sholat ashar, kami pulang. Kami berjalan kembali ke tempat turun dari angkot tadi. Disana kami harus naik bus jurusan Kalideres lagi agar kami bisa sampai Tangerang. Sempat galau mau naik bus yang ber-AC atau tidak, akhirnya kami putuskan untuk naik bus apapun yang pertama lewat. Dan sebentar kemudian, ada bus warna hijau jurusan Kalideres lewat. Tanpa pikir panjang kami langsung naik bus itu.

Di bus ini, kami dimintai ongkos 15.000 per orang. Hmmm, lebih murah dari ongkos Padeglang – Serang tadi pagi. Padahal, jarak tempuhnya jelas lebih jauh Serang- Tangerang, lewat toll lagi.

Tapi, rupanya kami tidak bisa menikmati perjalanan dengan tenang. Awalnya yang liyer-liyer pengen tidur jadi tegang dan deg-degan. Bus melaju kencang di tol dan sopir mengemudikannya dengan ngawur. Di tol Jakarta – Merak yang ramai dan penuh dengan truk tronton itu, pak sopir nyalip kiri – nyalip kanan sesukanya. Belum lagi ngegas terus rem mendadak hingga hanya berjarak beberapa centimeter dengan  kendaraan di depannya. Ditambah lagi klakson-klakson gak jelas. Kenapa pula jalannya harus kayak gitu pak sopir? 😦

Apa iya aku harus sampai Tangerang dengan cara seperti ini? Aku cuma bisa pasrah sambil berdzikir dalam hati.

bus-labuan-kalideres

Paling parahnya waktu sampai Balaraja, bus hendak menurunkan penumpang dan keluar di gerbang tol Balaraja Barat. Sewaktu melewati exit tol yang menikung, bus maksain nyalip truk di depannya. Nyalipnya lewat kiri.  Sisi kiri bus udah nggasruk ranting-ranting pohon di samping jalan. Kemudian habis nyalip, bus banting setir dan menyebabkan ibu-ibu yang duduk di sebelah saya yang sedang mangku bayi terjatuh ke lantai bus. Ibu-ibu itu marah ke kernet bus. Tapi seakan-akan, pak kernet juga tidak peduli. Dia malah menyuruh ibu itu untuk pindah tempat duduk. Padahal kan bukan itu poinnya. Bisa gak pak sopir mengemudikan bus dengan lebih hati-hati?

Setelah keluar tol, bus berhenti untuk menurunkan penumpang. Temanku mengajak aku turun saat itu juga dan aku langsung mengiyakan. Kami tidak tau dimana kami berada tetapi kami ingin pulang dengan selamat. Siapa yang bisa berpikiran positif dalam keadaan seperti itu? Kami lebih baik membayar lagi untuk naik bus yang lain.

gerbang-tol-balaraja-barat

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya ada lagi bus ke arah Kalideres. Kami naik bus itu. Di bus ini, kami bisa tenang. Yang jelas, kali ini sopirnya enggak ngawur.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah kami di Cikokol, Tangerang. Masih harus naik angkot satu kali lagi untuk sampai Serpong. Sekitar maghrib barulah kami sampai kost. Hari yang melelahkan memang, tetapi menyenangkan karena bisa berpetualang.

Perjalanan ini bukan perjalanan yang mewah. Bukan juga perjalanan yang mudah. Tapi cukup memberikan pengalaman yang berkesan. Toh, hidup ini tidak selalu tentang kemewahan.

 Kalau cerita kalian bagaimana?

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Tidak Biasa: Serpong – Rangkasbitung – Pandeglang – Serang – Tangerang – Serpong, part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s