Perjalanan Tidak Biasa: Serpong – Rangkasbitung – Pandeglang – Serang – Tangerang – Serpong, part 1

Sabtu 2 minggu yang lalu, saya bersama seorang teman pergi jalan-jalan. Kali ini jalan-jalannya sedikit absurd. Berawal dari chat teman yang mengajak jalan-jalan naik KRL, saya langsung membalas dengan ide jalan-jalan ke Rangkasbitung. Kenapa Rangkasbitung? Nggak tau juga :D. Entah darimana ide itu muncul, saya pikir nggak ada salahnya mencoba pergi ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah kita singgahi. Selain itu, perjalanan KRL-ku biasanya ke arah Jakarta dan juga sepulang dari Jakarta, pemberhentianku selalu di Stasiun Serpong, belum pernah aku melewati jalur kereta ke arah Merak setelah Stasiun Serpong.

Lanjut. Akhirnya kami benar-benar berangkat ke stasiun hari itu. Berbekal googling seadanya, kami beli tiket kereta ke arah Rangkasbitung yang ternyata harganya hanya Rp. 8000 per orang. Di tiket tertera tulisan ‘PATAS’. Meskipun tidak ditentukan nomor tempat duduk, kami pikir nanti pasti akan kebagian tempat duduk.

tiket-ka-patas-merak

Setelah menunggu untuk beberapa saat, jam 8, kereta datang. Sampai diatas kereta, sudah tidak tersedia lagi tempat duduk. Berdiri deh. Perjalanan kira-kira sekitar satu setengah jam. Dan selama itu pula kami berdiri. Lumayan pegel juga sih.

Ada feel yang berbeda di rute Serpong – Rangkasbitung. Jika rute Serpong – Jakarta menyuguhkan pemandangan pemukiman penduduk. Di rute ini, kebanyakan pemandangannya adalah sawah, padang rumput, kerbau, dan tanah kapur.

Sampai di Stasiun Rangkasbitung, kami langsung naik angkot menuju Alun-alun Rangkasbitung. Saya nggak tau tempat lain untuk dituju pelancong di Rangkasbitung. Berdasarkan tanya-tanya orang selama nunggu kereta sih, ya cuma tempat ini yang bisa didatangi.

Jarak dari stasiun ke alun-alun cukup dekat, naik angkot cuma sekitar 15 menit. Setelah sampai alun-alun, kami cuma duduk-duduk, makan camilan, dan foto-foto. Alun-alunnya bisa dibilang cukup kecil dibanding alun-alun lain yang pernah saya lihat. Namun, identik dengan alun-alun kota lain, di sisi alun-alun terdapat kantor bupati, masjid, dan pusat jajanan. Suasananya sih sepi, tapi banyak anak-anak sekolah yang berolahraga dan berkumpul disini.

salah-satu-sudut-alun-alun-rangkasbitung

alun-alun-rangkasbitung-2

alun-alun-rangkasbitung-3
Sabtu mendung di Rangkasbitung

Udah puas foto-foto, kami bingung mau ngapain lagi disini. Kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Serang. Disana nanti kami mau bertemu teman kuliah.

Malu bertanya sesat di jalan. Daripada salah naik angkot, kami nanya ke orang gimana caranya untuk bisa sampai ke Serang. Kata orang itu, kami tinggal naik angkot sekali ke Terminal Mandala kemudian turun dan lanjut naik bus ke Serang. Langsung deh kami naik angkot yang ditunjukkan.

Sesampainya di depan terminal Mandala, ada mas-mas gitu yang ndatengin angkot kami terus nawarin angkot ke Pandeglang. Aku diem aja, nggak merespon, soalnya kan kami mau ke Serang.

Mas-mas itu nanyain aku. Terus aku jawab mau ke Serang. Terus pak sopir nyeletuk, “Oh, kalau Serang kesana” (sambil siap mau jalanin angkot lagi masuk ke terminal). Tapi seakan-akan tersadar sesuatu, dia langsung mengubah perkataanya menjadi, “ke Terminal Kadubanen dulu mbak, naik angkot itu, disini udah lama nggak ada bis ke Serang.” Perkataan pak sopir angkot menjadi sejalan dengan mas-mas pencari penumpang. Si pencari penumpang menegaskan lagi kalau emang udah nggak ada bis ke Serang di terminal itu. Akhirnya kami nurut deh, kami pindah ke angkot warna biru, jurusan Pandeglang. Dalam hati, “Ini bener ngga ya… Jangan-jangan karena wajah kami culun banget, keliatan bukan orang lokal, terus kami dibohongin.” Ada aja pikiran negatif, padahal kan ngga boleh ya.

Ikutlah kami dengan angkot jurusan Pandeglang. Pas angkot udah jalan beberapa saat, kami sempet takut juga sih, soalnya jalan yang dilewati makin lama makin sepi, penumpangnya cuma sedikit. Sebenarnya jalanannya enak, pemandangannya bagus, bentangan sawah di kiri dan di kanan jalan, seger. Tapi karena ini diluar rencana dan kami buta daerah itu, jadinya ada rasa was-was.

Perjalanan dari Mandala ke Kadubanen memakan waktu yang cukup lama karena memang jaraknya cukup jauh, sepertinya sekitar setengah jam. Lalu, tiba-tiba angkot berhenti. Tanpa berkata sedikitpun, pak sopir langsung turun dari angkot. Kami sempat kaget sih. Rupanya, kami sudah sampai di terminal Kadubanen. Pak sopir lalu meminta kami turun dan meminta ongkos. Kemudian dia ngasih tau tempat nunggu, ngasih tau bis yang harus dinaiki yaitu bis jurusan Labuan – Kalideres, plus ngasih tau ongkosnya juga. Dia bilang, dari Kadubanen ke Serang mestinya bayar 10 ribu aja, kasih uang pas, jangan mau kalau ditarikin lebih.

Karena pecahan uang kecilku udah habis, aku berniat memecahnya lebih dulu. Kebetulan aku lihat al*amart di seberang terminal. Jajan dulu deh. Pas keluar dari toko, kami lihat ada bis keluar dari terminal. Kami langsung refleks lari mengejar bis. Nggak yakin juga sih itu bis yang ke Serang, pokoknya lari. Pak sopir bus ngeliat kami lari-lari, lalu berhenti nungguin kami.

Bersambung ke Part 2

Advertisements

One thought on “Perjalanan Tidak Biasa: Serpong – Rangkasbitung – Pandeglang – Serang – Tangerang – Serpong, part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s